Nabi Musa dipertemukan dengan seorang wali Allah yang memberi pelajaran tentang ujian hidup.
Kisah ke-122 tentang ridha terhadap takdir dan akibatnya
Diceritakan bahwa Nabi Musa عليه السلام berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah aku seorang wali-Mu." Maka datanglah seruan: "Wahai Musa, naiklah ke gunung ini lalu turunlah ke lembah, maka kamu akan melihat apa yang kamu minta."
Maka Musa pun melakukannya. la melihat sebuah padang luas, dan di dalamnya ada sebuah rumah kecil di bawah tanah. la pun masuk ke dalamnya, dan ternyata di sana ada seorang lelaki yang terkena penyakit kusta, tubuhnya seperti potongan daging yang tergeletak.
Musa berkata kepadanya: "Salam sejahtera atasmu wahai wali Allah." Lelaki itu menjawab: "Dan atasmu salam wahai Kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah)." Musa berkata: “Dari mana kamu mengenalku?” la menjawab: "Aku adalah orang yang tidak pernah dijenguk seorang pun dalam keadaan seperti ini. Aku telah memohon kepada Allah beberapa malam lamanya agar mempertemukanku denganmu, dan Dia telah mengabulkan doaku."
Musa bertanya: "Wahai kamu, siapa yang melayanimu? Dari mana kamu makan dan minum?" la menjawab: "Aku mempunyai seorang anak yang setiap hari pergi ke lembah ini dan mengumpulkan untukku sesuatu dari akar-akar tumbuhan berduri (seperti papirus atau sejenisnya), lalu aku bersilang dan berbuka dengannya."
Musa berkata: "Aku ingin melihat anakmu." Lelaki itu pun memberinya petunjuk jalan. Musa pergi ke arah yang dimaksud, dan ternyata anak itu tampan rupawan, indah wajahnya seperti bulan. Musa pun merasa takjub dan berkata: "Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta."
Namun, ketika Musa sedang dalam kekaguman itu, tiba-tiba datang seekor binatang buas dan menerkam anak itu hingga mati. Musa pun marah dan berkata: "Ya Tuhanku, ya Sayyidku, wali-Mu yang terjadi dalam keadaan seperti itu tidak memiliki seorang pun yang melayaninya, kini anaknya pun diterkam binatang buas!"
Lalu Allah mewahyukan kepadanya: "Kembalilah kepada ayahnya, dan lihatlah betapa sabar dan ridanya."
Maka Musa kembali kepada lelaki itu, lalu ceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu, lelaki itu justru tertawa bahagia dan penuh suka cita, lalu menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata: "Ya Tuhanku, ya Sayyidku, Engkau telah menganugerahkan kepada anak ini, dan aku mengira ia akan hidup setelahku. Namun, karena Engkau telah membebaskanku darinya, maka ambillah aku sekarang dalam keadaan bersujud kepada-Mu."
Kemudian ia pun bersujud, dan ketika Musa menggerakkannya, ternyata ia sudah wafat.
Musa berkata: "Ya Tuhanku, ya Sayyidku, apakah mungkin wali-Mu tergeletak di tempat seperti ini, dan anaknya tergeletak di lembah itu?"
Maka turunlah Malaikat Jibril, lalu memandikan keduanya dan menguburkannya. Setelah itu Musa عليه السلام kembali
Hikmah singkat dari kisah di atas adalah:
Ridha dan sabar terhadap takdir Allah adalah tandanya kewalian dan kemuliaan seorang hamba. Seorang wali Allah yang menderita sakit parah sekalipun tetap menerima ketentuan-Nya dengan penuh syukur. Bahkan ketika anaknya yang menjadi satu-satunya penolong wafat, ia tetap ridha dan menyerahkan dirinya kepada Allah. Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada sehat, harta, atau anak, melainkan pada hati yang rela dan yakin bahwa semua. ketentuan Allah adalah yang terbaik. "Bahagia sejati lahir dari menerima, bukan dari memiliki."
Referensi:
Nawadir Qalyubi

Komentar
Posting Komentar